Moral Panic : Ditengah Wabah Covid-19

Moral panic merupakan efek dari pemberitaan yang dijejalkan secara masif atas hal-hal yang mengkhawatirkan dari suatu kejadian sehingga memunculkan kepanikan juga bagi siapa yang mengkonsumsi pemberitaan tersebut. Begitu juga dengan efek dari pemberitaan virus corona hari-hari ini.

Dampak nyata yang ditimbulkan oleh moral panic pemberitaan media tersebut misalnya, di indonesia yang terjadi mulai dari bagaiman para suspect yang mendapat tekanan dari masyarakat, tenaga medis yang dalam posisinya sebagai garda terdepan mengatasi wabah corona namun di asingkan dan dituduh sebagai salah satu sumber penyebaran virus, hingga korban jiwa Covid-19 yang kejelasannya di beberapa daerah masih juga diperdebatkan.

Bukan hanya di indonesia, di Amerika yang meruakan salah satu negara maju pun tidak luput dari dampak moral panic tersebur, misalnya semenjak banyaknya pemberitaan tentang bahaya virus corona masyarakat mereka dilanda panic buying yang membuat banyak toko kehabisan stoknya seperti tissu roll, air kemasan, dan sembako lainnya. Selain itu mereka juga menyerbu toko senjata dan amunisi

Di beberapa negara rasisme terhadap warga berdarah asia diserang dan didiskrimisasi karena kepanikan membuat mereka beranggapan bahwa semua orang asia ataupun berdarah asia membawa dan dapat menyebarkan virus tersebut.

Menteri Kesehatan, dr. Terawan Agus Putranto menegaskan kepada seluruh warga Indonesia untuk tidak panik dan takut berlebihan dalam menyikapi simpang siur berita seputar virus corona yang terjadi. Karena kepanikan dan rasa takut (Phobia) yang berlebihan akan menurunkan sistem kekebalan tubuh sehingga memungkinkan virus menyerang kesehatan.

Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) meminta media penyiaran proporsional atau tidak berlebihan dalam memberitakan wabah virus corona (Covid-19) Pemberitaan yang berlebihan dapat memantik kepanikan di masyarakat. Yuliandre mengatakan, media secara tidak langsung mempengaruhi perilaku masyarakat. Bila media profesional dan proporsional dalam pemberitaannya, maka masyarakat akan tercerahkan, tidak panik, dan tidak sampai memborong masker, apalagi sembako.

satu hal yang penting untuk diupayakan bersama tentunya dengan saling mendukung untuk melawan wabah tersebut dengan meningkatkan solidaritas, daripada menimbun segala sesuatu yang bisa dijadikan sebagai bagian dari pencegahan lalu mengakumulasi itu sebagai bagian dari keuntungan. Jadi, bukan hanya wabah sebagai risiko yang menjadi kekhawatiran, krisis humanisme di balik risiko itu pun semestinya menjadi alarm nyaring untuk kita waspadai dan tentunya kita lawan untuk mengembalikan kesadaran masyarakat kita dalam upaya kebersamaan dan keadilan.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *