Kemunduran Dalam Pendidikan Yang Modern

Setiap Tanggal 2 Mei Bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional atau lebih dikenal dengan singkatan HARDIKNAS. Hari ini bertepatan dengan kelahiran sosok pejuang bangsa yaitu Bapak Ki Hadjar Dewantara yang tidak kenal lelah memperjuangkan nasib rakyat pribumi agar bisa memperoleh pendidikan yang layak. Hari nasional ini ditetapkan melalui Keppres No. 316 Tahun 1959 tanggal 16 Desember 1959.

Pada saat itu ketika masa penjajahan pemerintahan kolonial Belanda di Indonesia, terdapat kenyataan bahwa hanya mereka keturunan Belanda dan orang-orang kaya saja yang bisa memperoleh pendidikan, sedangkan rakyat pribumi sengaja dibiarkan buta huruf dan tidak bisa mengenal pendidikan. Jika pendidikan tidak diperjuangkan saat itu maka sudah dapat dipastikan Indonesia tidak mungkin bisa maju dan berkembang perekonomiannya seperti yang kita rasakan saat ini.

Pendidikan merupakan proses mencetak generasi penerus bangsa yang berkualitas. Indonesia adalah salah satu negara berkembang di dunia yang masih mempunyai masalah dalam dunia pendidikan. Inti dari sistem pendidikan nasional, tujuannya adalah ‘mengembangkan potensi peserta didik’. Hal itu guna mencapai tujuan negara yaitu ‘mencerdaskan kehidupan bangsa’. (Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Namun hingga saat ini masih dirasakan ketertinggalan di dalam mutu pendidikan. Padahal mutu pendidikan yang rendah akan menghambat penyediaan sumber daya manusia yang memiliki keahlian dan keterampilan, guna meningkatkan pembangunan bangsa di berbagai bidang. Kendala dalam pendidikan di Indonesia diantaranya adalah keterbatasan akses pada pendidikan, jumlah guru yang belum merata, serta kualitas guru itu sendiri dinilai masih kurang.

Terbatasnya akses pendidikan di Indonesia, terlebih lagi di daerah berujung kepada meningkatnya arus urbanisasi untuk mendapatkan akses ilmu yang lebih baik di perkotaan. Secara tidak langsung, masyarakat Indonesia didorong untuk melakukan urbanisasi karena keterbatasan fasilitas di daerah. Pengamat pendidikan Indonesia menilai akses pendidikan harus dibuka seluas-luasnya untuk seluruh masyarakat dengan penyediaan fasilitas yang mendukung program tersebut.

Tanpa pendidikan bagaimana generasi penerus melanjutkan dan memajukan bangsa?

Pandemi Corona di seluruh dunia, termasuk Indonesia, belum jelas kapan berakhir. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah mempersiapkan skenario belajar dari rumah (BDR) hingga akhir tahun ini. Skenario tersebut dipersiapkan untuk mengantisipasi kemungkinan pandemi corona di Indonesia berlangsung hingga akhir 2020. Pelaksanaan Belajar dari Rumah akan terus berlangsung sampai pemerintah mencabut keadaan darurat Covid-19.

Keputusan pemerintah yang mendadak dengan meliburkan atau memindahkan proses pembelajaran dari sekolah menjadi dirumah, membuat kelimpungan banyak pihak. Ketidaksiapan stakeholder sekolah melaksanakan pembelajaran daring menjadi faktor utama kekacauan ini, walaupun pemerintah memberikan alternatif solusi disaar situasi darurat seperti ini. Saat ini sekolah yang menerapkan pembelajaran dari rumah sekitar 97,6 persen. Sementara sisanya tidak melaksanakan Belajar di Rumah karena tidak memiliki perangkat pendukung.

Peralihan cara pembelajarn ini memaksa berbagai pihak untuk mengikuti alur yang sekiranya bisa ditempuh agar pembelajaran dapat berlangsung, dan yang menjadi pilihan adalah dengan pemanfaatan teknologi sebagai media pembelajaran daring. Penggnaan teknoligi ini juga sebenarnya bukan tanpa masalah, banyak faktor yang menghambat terlaksananya efektifitas pembelajaran daring ini antara lain : Penguasaan teknologi yang masih rendah, keterbatasan sarana dan prasarana, dan biaya.

Pendidikan anak sejatinya adalah tanggung jawab mutlak orang tua, sebab orang tua merupakan salah satu stakeholder pendidikan yang harus paham dan sadar dalam perannya. Kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan secara daring memaksa orang tua untuk terlibat langsung dalam kegiatan anak-anaknya, dan banyak pengalaman yang mereka rasakan ketika harus mendampingi. Ramai diberbagai pemberitaan yang menceritakan pengalaman orang tua dan anaknya dalam proses pembelajaran, seperti misalnya ternyata ada orang tua yang sering marah karena mendapatkan anaknya sulit diatur sehingga mereka tidak tahan dan ingin anak mereka belajar kembali disekolah.

Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi mengungkapkan
anak-anak yang mengalami stres setelah menjalani pembelajaran oleh orang tua di rumah. “Banyak anak anak yang mengalami stres, tertekan. Salah satunya adalah kadang di dalam cara orang tua menghadapi putra putri tercinta para orang tua sekarang harus menjadi guru tiba-tiba di dalam rumah,” ujar Seto di Kantor BNPB, Sabtu (25/4/2020).

Di sisi lain, kasus putus sekolah anak – anak usia sekolah di Indonesia juga masih tinggi. Berdasarkan data Kemendikbud 2010, di Indonesia terdapat lebih dari 1,8 juta anak setiap tahun tidak dapat melanjutkan pendidikan,  Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor ekonomi dimana anak – anak terpaksa bekerja untuk mendukung ekonomi keluarga, kemudian kurangnya dukungan dari keluarga dan lingkungan tentang pentingnya menempuh pendidikan.

Harus diakui bahwa peserta didik kita mayoritas sama sekali tidak memiliki cita-cita untuk menjadi apa kelak, meskipun ada yang punya tetapi tidak jelas.yang terjadi adalah mereka belajar secara ngambang dan tidak memiliki arah yang jelas yang penting berangkat sekolah. Satu hal yang penting adalah para pendidik kita tidak mengarahkan anak untuk mewujudkan cita-citanya namun bagaimana anak supaya bisa menghapal semua materi pelajaran tanpa terkecuali.

Adapun solusi dari masalah diatas dengan mengubah nya sistem pendidikan dengan cara mendidik siswa dengan cara mengarahkan mereka untuk lebih kreatif dalam melakukan kegiatan .dan pemerintah harus lebih cepat menangani masalah pendidikan terutama dalam membuat kurikulum yang sesuai dengan kondisi para siswa ,dengan menciptakan kurikulum yang lebih mengarah ke potensi mereka.

Meningkatnya kualitas pendidikan berarti sember daya manusia akan semakin baik dan akan mampu meneruskan cita-cita bangsa dalam dunia internasional. Dengan memperingati Hari Pendidikan Nasional setiap Tanggal 2 Mei ini diharapkan dapat memberikan makna tersendiri yang mendalam terhadap kemajuan pendidikan baik Formal maupun Informal di Indonesia.

Share this :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *